PENDEKATAN HISTORIS NORMATIVITAS

 Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa secara umum studi islam bertujuan untuk menggali kembali dasar-dasar dan pokok-pokok ajaran islam sebagaimana yang ada dalam sumber dasar yang bersifat hakiki, universal dan dinamis serta abadi (eternal), untuk dihadapkan atau dipertemukan dengan budaya dan dunia modern, agar mampu memberikan alternatif pemecah permasalahan yang dihadapi oleh umat manusia pada umumnya dan umat islam pada khususnya.
a.      Pengertaia Historisitas dan normativitas
            Dalam kamus umum bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadaminta mengatakan sejarah /historis adalah kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau peristiwa penting yang benar-benar terjadi. Definisi tersebut terlihat menekankan kepada materi peristiwanya tanpa mengaitkan dengan aspek lainnya. Sedangkan dalam pengartian yang lebih komprehensif suatu peristiwa sejarah perlu juga di lihat siapa yang melakukan peristiwa tersebut, dimana, kapan, dan mengapa peristiwa tersebut terjadi
Kata normatif berasal dari bahasa Inggris norm yang berarti norma ajaran, acuan, ketentuan tentang  masalah yang baik dan buruk yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Pada aspek normativitas, studi Islam agaknya masih banyak terbebeni oleh misi keagamaan yang bersifat memihak sehingga kadar muatan analisis, kritis, metodologis, historis, empiris terutama dalam menelaah teks-teks atau naskah keagamaan produk sejarah terdahulu kurang begitu ditonjolkan, kecuali dalam lingkungan peneliti tertentu yang masih sangat terbatas.
Pendekatan historisitas dan normativitas. Sisi historisitas merupakan bentuk sejarah bagaimana dogmatika itu muncul, sedangkan normativitas adalah aturan baku itu sendiri, yang mana tidak dapat dilepaskan dari pemikiran tentangnya. Dimana penafsiran tentang dogmatika tersebut, tidak hanya ditentukan oleh teks tunggal, melainkan juga kepentingan, kondisi, maupun prejudice yang mendasari penafsiran juga muncul dalam pemikiran keIslaman, yang kini telah dibakukan dan dijadikan pedoman mutlak.


Pendekatan Historis
Sejarah atau histories adalah suatu ilmu yang didalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut.
Dengan pendekatan historis, yang dimaksud adalah meninjau sesuatu permasalahan dari sudut tinjauan sejarah, dan mejawab permasalahan, serta menganalisisnya dengan metode analisis sejarah. Sejarah atau histori adalah studi yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian masa lalu yang menyangkut kejadian atau keadaan yang sebenarnya. Sejarah memang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa masa lalu, namun peritiwa masa lalu tersebut hanya berarti dapat dipahami dari sudut tinjauan masa kini, dan ahli sejarah dapat benar-benar memahami peristiwa dan kejadian masa kini hanya dengan petunjuk-petunjuk dari peristiwa dan masa lalu tersebut. Dengan demikin dapat dikatakan bahwa dengan mempelajari masa lalu, orang dapat memahami masa kininya, dan dengan memahami serta menyadari keadaan masa kini, maka orang dapat menggambarkan masa depan. Itulah yang dimaksud dengan perspektif sejarah. Di dalam studi islam, permasalahan atau seluk-beluk dari ajaran agama islam dan pelaksanaan serta perkembangannya dapat ditinjau dan dianalisis dalam kerangka perspektif kesejarahan yang  demikian itu. 
Melalui pendekatan sejarah seorang diajak menukik dari alam idialis kealam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idialis dengan yang ada dalam alam empiris dan historis.
Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang kongkrit bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini kuntowijaya telah melakukan studi yang mendalam  terhadap agama yang yang dalam hal ini islam menurut pendekatan sejarah. Ketika ia mempelajari alquran, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya kandungan alquran itu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi konsep-konsep dan bagian kedua berisi kisah-kisah seejarah dan perumpamaan.
Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini, maka seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konteks historisnya karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang yang memahaminya. Seseorang yang ingin memahami alquran secara benar misalnya, yang bersangkutan harus mempelajari sejarah turunya alquran atau kejadian-kejadian yang mengiringi turunya  alquran yang selanjutnya disebut sebagai ilmu Asbab an Nuzul (ilmu tentang sebab-sebab turunya ayat-ayat al-quran) yang pada intinya berisi sejarah turunya ayat alquran. Dengan ilmu asbabun Nuzul ini seseorang akan dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenan dengan hukum tertentu dan ditujukan untuk memelihara syariat dari kekeliruan memahaminya.
Dengan menggunakan pendekatan sejarah ada lima teori yang bisa digunakan, yaitu:
1.            Idealisme approach
Adalah seorang peneliti yang berusaha memahami dan menafsirkan fakta sejarah dengan mempercayai secara penuh fakta yang ada tanpa keraguan.
2.      Reductionalist approach
            Adalah seorang peneliti yang berusaha memahami dan menafsirkan fakta sejarah dengan penuh keraguan.
3.      Diakronik
 Adalah penelusuran sejarah dan perkembangan satu fenomena yang sedang diteliti.
 4.      Sinkronik
            Adalah kontekstualisasi atau sosiologis kehidupan yang mengitari fenomena yang sedang diteliti.
  5.      Teori
             Adalah sistem nilai atau budaya.
Menurut buku Fenomenologi Agama historis adalah studi mengenai rangkaian  ungkapan-ungkapan khusus, yang tidak dapat ditarik kembali, di mana ungkapan-ungkapan yang lebih akhir secara kumulatif dipengaruhi yang lebih dahulu. Pendekatan historis bisa dicapai melalui usaha memahami ungkapan-ungkapan itu dengan cara menghubukannya dengan konteks sejarah mereka dan memahami seluruh konteks dengan cara berpindah dari satu ungkapan ke ungkapan yang lain. 

0 comments:

Poskan Komentar